Kucoba telisik suara pagi
Namun kicau burung tak ada lagi
Laksana tercekik tak mampu bernyanyi
Memandang langit hanya ada kelabu
Lalu ke mana warna biru itu?
Yang biasa ada hiasi siang hariku
Mataharipun tenggelam di ufuk barat daya
Namun tak sedikitpun kulihat jingga
Sebab sosoknya tak lagi membawa cahaya
Dan ketika malam, tak tampak jua sang kirana
Apalagi bintang dengan kilauannya
Seakan angkasa telah hilang, jatuh menimpa kepala
Kehampaan… itu yang kurasa
Setelah fajar tadi, kau pergi selamanya
Pelangi bertanya padaku
Apa warnamu, hujan?
Bukankah air itu tak berwarna
Bening, sebening hatiku
Bisakah kau lihat cintaku?
Dan pelangi kembali bertanya
Kenapa kau selalu menghindari aku, hujan?
Bukankah bila aku masih di sini,
kau tak kan datang
Jadi kenapa kau bertanya?
Lagi-lagi pelangi bertanya
Kapan kita bisa saling beriringan?
Bukankah seharusnya kau tahu jawabnya
Kita tak mungkin bersama
Sudahlah berhentilah bertanya!
Sebab kalau kau masih ragu
Tanyakan saja pada gerimis
Karena dialah yang terdekat denganmu
Lengkungan terbias di cermin buram
Tak yakin tampak namun kutahu indah
Kedipan perlahan tersemat suram
Terhalang kabut namun tetaplah terindah
Rinduku terhampar di pasir tak bertuan
Cintaku terbelenggu di sekat dinding kelabu
Langkahi jurang terpuruk terjal dalam impian
Menggapai beribu malam tak pernah mampu
Bukalah sedikit celah untukku menggugah
Bisikkan kedamaian yang belum terjamah
Ungkapkan misteri yang tak pernah kau sadari
Bahwa hati telah membuncah resah terpatri